Kejahatan Seksual

posted in: Kampanye | 0
Sri Sulandari (dok. Prib)

Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak untuk perlindungan terhadap anak-anak, pencegahan eksploitasi seksual terhadap anak-anak baik di masyarakat maupun secara online. Diskusi tentang kejahatan seksual sebagai kejahatan kemanusiaan menjadi sangat menarik karena maraknya kasus-kasus pelecehan seksual yang utamanya dialami oleh anak-anak.

Kejahatan seksual dikategorikan sebagai kejahatan kemanusiaan karena korban kejahatan ini bisa rusak harkat kemanusiaannya. Apabila kasus ini menimpa anak-anak, terkadang orang tua tidak mengerti kalau hal kecil bisa membawa dampak yang luar biasa secara psikologis dan fisik. Anak-anak korban pelecehan seksual ini, bisa jadi lebih menutup diri terhadap pergaulan sosial dan juga sakit hati kepada orang dewasa yang melakukannya. Pelecehan seksual sering terjadi kepada anak-anak secara tidak disadari, misal ketika ada anak yang diplorotkan celananya. Meskipun pelaku hanya bercanda, namun perbuatan ini termasuk perilaku pelecehan seksual. Jika ini menimpa anak-anak akan dapat memberi dampak psikologis pada anak yang bisa jadi dia sakit hati. Perilaku seperti ini perlu diinformasikan kalau termasuk perilaku pelecehan terhadap anak.

Pelaku kekerasan seksual banyak dari orang terdekat, termasuk pelecehan seksual di sekolah. Gurupun tidak terlepas dari tindak kejahatan ini, seperti guru olah raga yang mempunyai ruang untuk berinteraksi secara fisik lebih dekat dengan anak-anak. Selain itu, guru BK juga sama bahkan kadang anak-anak bermasalah menganggap guru Bimbingan dan Konseling (BK) adalah penyelamat dan mendapat kenyamanan darinya sehingga anak-anak tidak lagi mengambil jarak baik psikis maupun fisik. Berbeda dengan orang dewasa, sikap kenyamanan ini terdakang malah menimbulkan nafsu sehingga membuka peluang guru tersebut melakukan kekerasan atau pelecehan seksual pada anak-anak.

Kekerasan terhadap perempuan dan anak cenderung meningkat akhir-akhir ini, namun terkadang masih ada gesekan anatar lembaga sehingga data pasti tidak bisa diprediksi. Data tersebut bisa di akses di BPPM (Badan Pemberdayaan Perempuan & Masyarakat). Data tersebut tidak sepenuhnya mengakomodir pelecehan seksual yang terjadi karena kadang korban masih malu untuk melapor. Penyebab kasus kekerasan yang tidak terlapor; pertama, menganggap bahwa kasus tersebut bukan bagian dari kekerasan. Kedua, sifat permisif masyarakat. Ketiga, orang tidak tahu harus melapor kemana. Keempat, dianggap sebagai aib.

Upaya-upaya penguatan dan penyadaran harus dilakukan kepada masyarakat. Masalah tersebut tidak bisa hanya diselesaikan oleh korban, apalagi jika korban adalah anak-anak. Pendamping dan penguatan kepada orang tua sangan penting, juga kepada masyarakat. Jangan sampai ketika ada korban pelecehan seksual, masyarakat malah menghakimi atau menuduh. Penghakiman dari masyarakat justru akan memperparah kondisi korban.

Kejahatan seksual akan terus ada selama ada peradaban manusia. Kasus pelecehan seksual antara guru dan siswa bisa terjadi ketika sedang memberikan pelajaran tambahan. Tentu saja hal ini dilakukan di sekolah dan dalam kondisi sepi. Hal seperti ini harus menjadi evaluasi apakah ini cukup aman untuk diteruskan karena peluang terjadinya kekerasan akan semakin besar. Relasi kuasa antara guru dan siswa, guru bisa melakukan penekanan dengan alasan memberikan pelajaran tambahan kepada anak yang dianggap kurang mampu menguasai pelajaran. Anak diminta untuk tinggal, sehinga mereka berada di situasi yang rentan terjadi pelecehan. Disini ada interaksi secara fisik dan psikis sehingga batas itu hampir tidak ada. Setiap manusia pasti memiliki sisi buruk seperti nafsu. Untuk memutus mata rantai ini juga tidak mungkin tapi bagaimana meminimalisir atau membatasi ruang gerak terjadinya kasus kekerasan seksual.

Kesadaran di masyarakat masih sangat rendah untuk memberikan pembekalan seksual pada anak. Orang tua perlu membekali anaknya dengan pengetahuan tentang seksualitas ini. Pengetahuan ini disesuaikan dengan bahasa dan teknis yang mampu diterima oleh anak. Waktu yang tepat untuk memberikan pengetahuan ini adalah ketika anak sudah mulai bisa diajak bicara dan bersinggungan dengan pihak luar, maka anak sudah harus dibekali. Pengetahuan itu bisa berupa pengenalan bagian tubuh mana yang boleh disentuh dan harus dilindungi, kapan mereka harus teriak, dan kapan harus minta tolong ketika ada orang yang ingin berbuat tidak baik.

Pengetahuan tentang reproduksi harus sudah mulai dikenalkan ketika anak akil balig. Selama ini ketika kita memberikan informasi tentang organ reproduksi ada kesalahfahaman di masyarakat kalau anak-anak diajari tentang hal-hal tabu. Hal ini harus dibongkar karena realitanya jika terus dibungkus menjadi hal tabu, anak-anak malah banyak yang akan menjadi korban. Anak harus diajari untuk melakukan apa jika ada situasi mengancam agar tidak semakin banyak jatuh korban.

Dalam menangani dampak psikologis anak-anak yang terkena pelacehan seksual, SAMIN biasanya akan bekerjasama dengan lembaga lain. Ada banyak upaya pencegahan yang sudah dilakukan SAMIN salah satunya, membangun gerakan di masyarakat yang melibatkan stakeholder dan pemangku kepentingan sehingga menjadi sebuah isu (mainstream pembangunan) yang terkait dengan pencegahan dan penanganan anak korban kekerasan seksual. Alasan kenapa dibuat suatu gerakan adalah karena jika hanya berbentuk program maka apabila program ini berakhir, kegiatan juga akan berakhir. Tapi jika dibangun, diinisiasi dan diadvokasi sebagai gerakan masyarakat, suatu ketika SAMIN tidak lagi ada di komunitas maka masyarakat sudah akan siap dengan dirinya sendiri melalui kesadaran. Jika gerakan ini ada di desa, maka bagaimana isu tersebut bisa menjadi kebijakan di desa. Kemudian gerakan di desa ini dilembagakan, selanjutnya terejawantah dalam struktur yang di ikat dengan SK ataupun perdes. Oleh karena itu, lembaga ini menjadi tanggung jawab desa yang harus dibiayai oleh dana desa. Isu ini akan dipromosikan oleh lembaga desa yang bisa diakses oleh masyarakat yang membutuhkan layanan jika terdapat kasus kekerasan.

Dalam perlindungan dan pencegahan kasus kekerasan seksual pada anak, anak juga dilibatkan sebagai subyek gerakan. Gerakan perlindungan anak yang berbasis komunitas ini anggotanya adalah seluruh pemangku kepentingan yang ada di desa, dan juga ada keterwakilan anak. Upaya pencegahan juga dilakukan melalui forum anak. Anak-anak ini sebagai subyek karena merekalah yang sebenarnya kita lindungi. Banyak anak-anak yang tertimpa kasus biasanya lebih nyaman ketika bercerita dengan teman sebayanya. Oleh karena itu perlu dilakukan penguatan kepada teman anak apa yang harus dilakukan ketika dia mendapat keluh kesah dari teman sebayanya. SAMIN juga melakukan promosi atau sosialisasi ke sekolah, dan lebih banyak pada anak usia SMP.

Anak-anak sekarang adalah anak yang lahir di era digital. Sebenarnya IT diciptakan untuk tujuan yang baik, namun manusia juga ada sisi buruknya. Sehingga mengambil kesempatan ini termasuk untuk melakukan kejahatan seksaul melalui media sosial online. Ini lebih sulit dideteksi daripada kejahatan lain yang secara kasat mata bisa dilihat. Bahkan anak-anak yang sudah terperangkap menjadi korban tidak menyadari. Banyak kejahatan secara online tetapi anak-anak tidak pernah bercerita kalau hal tersebut merupakan pelecehan. Sekarang ini anak-anak sudah semakin permisif untuk menerima hal-ha ynag sifatnya seksual, bahkan tidak merasa bersalah ketika melakukan hal-hal terkait perilaku seksual menyimpang. Ada anka-anak yang kecanduan dengan menerima imbalan terhadap apa yang mereka lakukan. Ada anak yang kecanduan mengirimkan foto bugilnya hanya untuk mendapat imbalan pulsa, bahkan kadang hanya pujian. Ini tidak sepenuhnya kesalahan anak sendiri, tetapi orang tua juga memiliki kontribusi terhadap kesalahan ini.

Tidak pernah ada pengawasan terhadap penggunaan gadget di keluarga. Orang Indonesia cenderung tidak menetapkan peraturan, jarang yang memiliki kesadaran untuk membuat peraturan. Penggunaan gadget harus disesauikan dengan kebutuhan usahanya. Anak PAUD yang diberikan gadget merupakan keegoisan orang tua karena anak menjadi lebih diam dan lebih mudah diatur. Ini merupakan bentuk kemalasan orang tua ketika anaknya rewel, mereka malas untuk membuat anak menjadi tenang kembali dan bergembira. Mereka tidak berfikir bahwa ini membawa dampak buruk pada anak-anak. Ada anak yang ketika bermain game rela menahan lapar, menunda ke toilet, hanya karena takut terputus main gamenya. Disamping gangguan fisik, secara psikis akan membuat daya konsentrasi, minat belajar turun, juga membuat susah tidur. Hal ini karena pemikirannya masih terperangkap pada game online.

Kejahatan seksual tidak bisa secara “saklek” diputus mata rantainya, namun masih bisa meminimalisir jumlah anak-anak dan perempuan yang menjadi korban. Ini harus melibatkan seluruh stakeholder dan Negara harus hadir. Ini akan menjadi gerakan di masayarakat jika didukung oleh kesadaran bersama dan ada anggaran dari Negara. (Muna)

*Disarikan dari talkshow radio SMART FM, Jum,at 30 Januari 2018, Puku; 10.00-11.00

Sumber: https://mitrawacana.or.id/berita/kejahatan-seksual-kejahatan-kemanusiaan/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *