Korban Prostitusi Anak Butuh Program Khusus dari Pemerintah

posted in: Kampanye | 0
Odi Shalahuddin, Direktur Yayasan SAMIN

Covesia.com – Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) Yogyakarta meminta agar pemerintah menyediakan program khusus anak- anak korban prostitusi.

Menurut Ketua Yayasan Samin, Odi Shalahuddin, saat ini tidak ada satu pun program yang dikhususkan untuk anak- anak yang jadi korban prostitusi. “Sebenarnya dulu ada program khusus anak-anak korban prostitusi disaat Indonesia aktif mengikuti kongres dunia. Tahun 1996 Kongres dunia menentang eksploitasi seksuslitas komersial terhadap anak. Pertama dan kedua itu (Indonesia) ikut,” kata Odi kepada Covesia.com usai acara diskusi 20 tahun reformasi soal ketimpangan dan toleransi masih jadi ancaman di Jakarta, Kamis (1/3/2018).

Dia menyebut di 2002 ada rencana aksi nasional penghapusan ekploitasi seksual komersial terhadap anak untuk 5 tahun. “Tapi di lima tahun berikutnya, digabung dengan rencana aksi nasional perdagangan anak. Tapi sekarang sudah tidak ada,” tandas dia.

Ia pun menjelaskan, Kementrian Sosial (Kemensos) pun awalnya mempunyai program pelatihan-pelatihan menangani anak-anak yang terjaring prostitusi dan lainnya. “Sejak tahun 2015 itu ditiadakan,” tuturnya.

Dia berharap agar pemerintah bisa lebih memperhatikan anak korban prostitusi dengan adanya program- program khusus. Jika didiamkan, dia khawatir suatu saat disekeliling kita akan banyak anak- anak yang jadi korban terjerumus ke dunia prostitusi.

Menurut dia program yang dibutuhkan adalah soal pencegahan dan penarikan. Penarikan yang dimaksud adalah jangan sampai ada anak-anak yang jadi korban prostitusi.

Ketika ada anak-anak di lokalisasi, tambah dia, akan teridentifikasi dengan cepat. Sehingga penegak hukum atau polisi bisa menangkap mucikari dan Kemensos bisa mengambil anak-anak tersebut dan memulihkan serta mengambalikan si anak kepada orang tua atau mencari alternatif pekerjaan yang lebih layak atau lebih baik.

Terkait data, Odi menjelaskan, belum ada data terakhir berapa jumlah anak- anak yang menjadi korban prostitusi. “Kalau data di Indonesia, itu adalah data tahun 1998. Misalnya ada sekitar 40 -70 ribu anak yang menjadi pelacur di Indonesia, Itu data tahun 1998,” kata dia.

Artinya belum ada pendataan terbaru atau penelitian dari pihak pemerintah terkait jumlah pasti anak-anak yang terjun ke dunia prostitusi.

Kendati demikian, dia mengaku Yayasan Samin memiliki program anak- anak korban prostitusi di masyarakat pedesaaan. Program ini bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak anak- anak di pedesaan yang menjadi korban prostitusi.

“Awalnya mereka mengatakan tidak ada anak di sini yang dilacurkan. Tapi ketika mereka dilibatkan dalam diskusi dan melihat, mereka kaget kok banyak anak-anak yang dilacurkan didesa itu yang beraktifitasnya disekitar itu. Itu ada dibeberapa desa di wilayah Garut,” terang dia.

Usia mereka pun terbilang masih sangat muda berkisar 13 tahun. “Kalau yang sudah pernah saya ketemu itu usia 13 tahun,” kata dia.

Namun, tambah dia, kendati usia mereka masih sangat muda, mereka bukan hanya sebagai pelaku proatitusi saja. Anak ini juga berperan sebagai mucikari yang menjual anak-anak lainnya.

“Jadi artinya dia berperan juga sebagai penyalur dan pedagang anak-anak dibawah umur,” tegas dia.

Hal inilah, kata dia, yang mengharuskan pemerintah segera mempunyai program pencegahan khusus anak agar tidak menjadi korban prostitusi.

(jon)

Sumber: https://covesia.com/news/baca/49440/korban-prostitusi-anak-butuh-program-khusus-dari-pemerintah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *