Menuju HAN, Menyuarakan Aspirasi Pusparagam Anak Indonesia lewat Temu Anak Peduli

posted in: Uncategorized | 0

SURABAYA, suaramerdeka.com – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional setiap tanggal 23 Juli, Program Peduli yang fokus bekerja untuk melindungi dan mendorong pemenuhan hak-hak anak dan remaja rentan menyelenggarakan Temu Anak Peduli “Pusparagam Anak Indonesia”. Sejumlah 165 anak berusia 9 hingga 18 tahun dari 31 kabupaten/kota perwakilan komunitas yang terpinggirkan dari berbagai wilayah di Indonesia berkumpul di Surabaya, Jawa Timur, pada 20 – 22 Juli 2018. Selama tiga hari, mereka belajar; bermain; berkarya; serta bertukar pikiran mengenai berbagai tema kebangsaan seperti gotong royong; literasi; kekerasan dan perundungan; toleransi; kepemimpinan; dan kewirausahaan.

Peserta “Pusparagam Anak Indonesia” juga akan berpartisipasi pada puncak perayaan Hari Anak Nasional tanggal 23 Juli 2018 di Kebun Raya Purwodadi, Jawa Timur yang dihadiri oleh Presiden Jokowi. Sejumlah 126 karya seni yang dihasilkan di Temu Anak Peduli akan akan dipamerkan di Taman Impian. Mereka juga akan memimpin sekitar 3.000 anak dari seluruh Indonesia untuk flashmob pada puncak perayaan . Rangkaian kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi anak-anak untuk berekspresi.

Salah satu peserta, Elmi Septiana, 16 tahun dari Desa Pemongkong, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, mengatakan, “Saya senang sekali bisa bertemu dengan teman-teman dari luar daerah dan saling berbagi. Ini pertama kalinya saya ikut kegiatan Hari Anak Nasional.” Elmi juga akan menjadi salah satu perwakilan anak yang akan berdialog dengan Presiden Jokowi.

Anak adalah warga negara yang sedang berproses. Kualitas hidup di masa anak-anak menjadi dasar bagi kualitas hidup di masa yang akan datang. Masa depan sebuah negara tercermin dari potret kondisi anak-anak sehingga mereka perlu dijaga, dibina, dan ditingkatkan kualitas hidupnya agar dapat bertumbuh kembang dengan optimal.

Namun sayangnya, terdapat berbagai tantangan berat untuk proses tumbuh kembang anak yang prima dan positif. Pengasuhan yang tidak memadai, kondisi miskin dan terpencil sering kali menjadi penyebab anak tidak memiliki identitas resmi. Mereka menjadi jauh dari layanan dasar, terutama pendidikan dan kesehatan. Kondisi ekonomi membuat anak menjadi rentan terperangkap dalam kegiatan ekonomi yang eksploitatif. Di beberapa tempat di Indonesia, tidak bisa dipungkiri pernikahan usia anak masih dianggap sebagai jalan pintas bagi keluarga untuk mengurangi beban ekonomi.

Erna Irnawati, Program Officer Program Peduli untuk Pilar Remaja dan Anak-anak Rentan mengatakan, “Program Peduli fokus bekerja untuk anak-anak yang menjadi korban eksploitasi seksual komersial, anak-anak yang berhadapan dengan hukum, dan anak-anak pekerja migran. Kami melihat di tengah keterbatasan dan kondisinya, anak-anak ini juga mampu bangkit dan menggapai mimpinya ketika mendapatkan akses, dukungan yang tepat, serta tercipta ruang aman bagi mereka. Mereka juga memiliki mimpi dan dapat mewujudkan cita-citanya serta berkontribusi untuk pembangunan Indonesia.”

Odi Shalahuddin, Direktur Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) mengatakan, “Temu Anak ini menarik karena mempertemukan anak-anak marginal yang selama ini terabaikan dan mereka membicarakan kebangsaan. Suara sebagai aspirasi mereka patut diperhatikan dan didengar oleh berbagai pihak.”

Sumber: https://www.suaramerdeka.com/news/baca/106514/menuju-han-menyuarakan-aspirasi-pusparagam-anak-indonesia-lewat-temu-anak-peduli

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *