Mendesak, Perda Perlindungan Anak di Makassar

posted in: Kampanye | 0
Edi Ariadi, Program Manager Program Peduli YKPM Makassar

Bertempat di Hotel Whize Prime Makassar (17/7 18), Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) bersama Yayasan Pengkajian Pemberdayaan Masyarakat (YKPM) menyelenggarakan Semiloka tentang “Inklusi Sosial bagi Anak yang Dilacurkan”.

Semiloka ini merupakan serangkaian kegiatan yang akan dilangsungkan di lima kota yang menjadi wilayah Program Peduli untuk isu Anak yang Dilacurkan. Selanjutnya, setelah rangkaian semiloka diselenggarakan, sebagai puncaknya akan diselenggarakan Seminar Nasional yang direncanakan akan berlangsung di Jakarta.

Acara yang dimoderatori oleh Subhansyah menghadirkan narasumber Edi Ariadi (Program Manager Program Peduli YKPM), Muhammad Amri Akbar (Kepala Bidang Sosial Budaya Bappeda Kota Makassar),  Hj. Hapidah Djalante, S.IP (Ketua P2TP2A mewakili Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak), dan Pahir Halim mewakili kalangan Akademisi.

Odi Shalahuddin, Direktur Yayasan SAMIN dalam sambutan dan pembukaannya memperkenalkan tentang SAMIN dan perkembangan isu anak yang dilacurkan di Indonesia. Berdasarkan hasil semiloka dan seminar nasional, akan dirumuskan dokumen yang dapat digunakan sebagai bahan untuk mengembangkan bentuk-bentuk intervensi yang tepat berdasarkan pengalaman dan mendorong lahirnya atau perbaikan kebijakan dan program pemerintah.

“Anak korban kasus ini terancam kehilangan masa depan yang baik. Pelayanan kesehatan dan pendidikan serta jaminan hidup masa depan tidaklah penting bagi anak tersebut. Baginya yang penting sekarang bagaimana bisa hidup, bertahan dalam situasi yang sulit. Kehadiran cso dan kepedulian pemerintah dan stake holder lainnya menjadi sangat berarti untuk memutus mata rantai eksploitasi seks anak tersebut dengan mengambil langkah konkrit melalui jaminan terhadap kelangsungan kehidupan masa depan anak yang lebih baik,” demikian dikatakan oleh Edi Ariadi.

Selanjutnya ia memaparkan proses kerja yang sudah dilakukan oleh YKPM dalam program Peduli. Pemaparan berangkat dari visi kota Makassar sebagai “kota dunia yang nyaman untuk semua” dan dikaitkan dengan pencapaian SDGs. Kegiatan YKPM selain melakukan intervensi langsung pada sasaran, juga diarahkan pada mengubah cara pandang pemerintah dan masyarakat dalam mensikapi persoalan AYLA. Strategi yang dikembangkan adalah mengkoordinasikan dan mekasimalkan peran setiap pemangku kepentingan dengan mengembangkan kontrol layanan berbasis IT.

Sedangkan Hj. Hapidah Djalante, S.IP dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak kota Makassar memaparkan tentang Tupoksi Kementrian PPPA dan pengalaman penangan kasus yang dilakukan P2TP2A kota Makassar. Point penting dalam pembahasan ini adalah bahwa persoalan AYLA sangat erat hubungannya dengan lemahnya  pengasuhan dalam keluarga dan kontrol sosial di masyarakat.

Muhammad Amri Akbar, Bidang Sosial Budaya Bappeda Makassar, dalam presentasinya menekannya pentingnya koordinasi di antara banyak instansi pemerintah dan lembaga masyarakat yang selama ini sudah bekerja dalam isu anak. Dipaparkan juga tentang paradigma baru yang bersifat holistik, tematik, integratif dan spasial yang perlu dikembangkan untuk mengakhiri ego sektoral.

Sementara itu Pahir Halim pembicara terkahir yang mewakili akademisi menyampaikan pentingnya Peraturan Daerah dalam kaintannya dengan isu AYLA di kota Makassar. Saat ini kota Makassar sedang menggodog Perda Perlindungan Anak yang sedang dalam pembahasan di DPRD. Tantangan dalam perumusan ini adalah bagaimana peraturan tersebut dapat “operasional” mengingat isu ini menyangkut  irisan persoalan domestik dan publik.

Diskusi berjalan cukup dinamis, meski lebih banyak membahas hal-hal yang bersifat kasuistik ketimbang isu. Persoalan lemahnya ketersediaan data juga menjadi keperihatian semua pihak. Umumnya peserta sepakat bahwa koordinasi dan kerjasama antar lembaga/instansi sangat penting dan ini menjadi rekomendasi untuk kerja-kerja ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *