Diluncurkan Buku Kesaksian 16 Anak yang Dilacurkan

posted in: Kampanye | 0

“Sepanjang lorong, pelosok negeri
Menjadi saksi, langkah hidupmu
Seorang gadis kecil, jejakkan kaki
Meraih mimpi, harapan semu

Pada usia muda, maut menjemputmu
Lantaran orang asing pesakitan
Pecahkan vibrator di kelaminmu
Hingga bertahun, sakit tertahan

Oo, Rosario, gadis jalanan
Bertemu orang seakan dewa
Nyatanya hanya agen pemangsa”

Catur Adilaksono (Wak Yok) dan nawang membawakan lagu-lagu anti Eksploitasi Seksual Anak

Demikian lagu yang dinyanyikan oleh Wak Yok bersama Nawang, membuka acara peluncuran buku dan film pendek tentang anak yang dilacurkan. Acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN), berlangsung tanggal 28 Agustus 2018 yang lalu, di Redtop Hotel, Jakarta.

“Lagu ini mengisahkan tentang seorang anak jalanan bernama Rosario Baluyet yang dijerumuskan ke prositusi. Ia tewas pada umur 11 tahun lantaran sakit bertahun karena seorang tamu memasukkan vibrator yang kemudian pecah di kelaminnya. Kasus ini mendorong masyarakat melakukan aksi-aksi untuk menentang eksploitasi seksual komersial terhadap anak di Philipina,” demikian dijelaskan oleh Nawang atas lagu yang dibawakannya.

Selanjutnya, satu lagu lagi “Potret Buram” dibawakan. Lagu ini juga mengisahkan tentang seorang anak dari Banjarnegara yang menjadi korban perdagangan yang dijadikan sebagai anak yang dilacurkan di Batam. Saat berhasil dikeluarkan dari rumah bordil tersebut dan berhasil dipulangkan, kasusnya dilaporkan ke kepolisian. Lantaran itu, keluarga korban mendapatkan teror terus menerus yang membuat mereka akhirnya berpindah ke kota lain.

Santo Klingon membawakan “Tuhan Masih Sayang Padaku”

Berbeda dengan acara peluncuran buku-buku lainnya yang biasanya berupa diskusi, kali ini kita diajak menyimak sebagian isi buku melalui pertunjukan, yang dapat dikatakan sebagai bentuk monoplay ataupun  dramatic reading. Panggung didesain dengan rangkaian jaring-jaring dan lantainya dipenuhi dengan tempelan-tempelan kertas koran. Pakaian anak-anak tergantung di beberapa tempat. Tali-tali menjulur dari langit-langit. Sebuah tempat tidur melintang di tengah panggung.

Helga Ineke Agustine, menjadi penampil pertama dengan membacakan “Berkat Ibu Saya” yang merupakan salah satu karya anak dari buku “3.5 Bulan 4 Mucikari: kesaksian 16 Anak yang Dilacurkan” yang diterbitkan oleh Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN). Dilanjutkan oleh Santo Klingon yang dengan gaya teatrikalnya membawakan “Tuhan Masih Sayang Padaku”.

Anna Amalia, yang berperan sebagai fasilitator dalam workshop penulisan bagi anak-anak yang dilacurkan itu, turut tampil memberikan semacam pertanggungjawaban sebagai fasilitator dan juga sebagai editor buku.

Pembacaan dilanjutkan oleh Dewi Nova membawakan “Lebih Menghargai Diriku,” dan yang terakhir adalah Kerensa Johnston dengan “Itu Bukan Saya”. Rifnu Wikana, yang direncanakan turut membacakan, berhalangan hadir karena pada malam itu masih shooting di Sumatra.

Secara keseluruhan, pembacaan karya anak ditampilkan secara menarik. Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Mohammad Hanif Dhakiri, yang sempat menyaksikan penampilan Kerensa, tampak terhanyut pula dalam suasana yang dibangun.

Selanjutnya, setelah memberikan penghargaan kepada para pemenang lomba esai dan film pendek dengan tema “Aku Berdaya: Lepas dari Eksploitasi Seksual Anak”, Mohammad Hanif Dhakiri memberikan Orasi Budaya tentang Upaya Menghapus Pekerja Anak di Indonesia. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *