PATBM Sebagai Strategi Pencegahan dan Pemulihan Anak yang Dilacurkan di Garut

posted in: Uncategorized | 0
Pembukaan Semiloka di Kabupaten Garut

 

“Garut merupakan salah satu model untuk menangani permasalahan yang tidak muncul di permukaan yaitu permasalahan yang berkaitan dengan anak. Bupati Garut telah mendukung untuk mengembangkan model ini. Kami ingin bekerjasama terus dengan Kabupaten Garut. (Program Peduli) Ini adalah program pemerintah tetapi yang mengerjakan LSM di bawah KEMENKO PMK dan yang mengelola adalah The Asia Foundation dengan LSM Lokal yaitu Semak. Terdapat 42.000 anak yang terjerat dalam seks komersial, di Garut umur 14 tahun dijual orang tuanya untuk menghilangkan kemiskinan, Saya berterima kasih kepada Pemerintahan Daerah Garut khususnya Pak Rudi yang sejak awal menerima kami untuk bekerjasama begitupula kepada OPD-OPD yang mensupport program ini,” demikian dikatakan oleh Sujana Rokyat, penggagas Program Peduli, yang kini berperan sebagai konsultan The Asia Foundation dalam sambutannya di acara Semiloka “Inklusi Sosial bagi Anak Yang Dilacurkan” (AYLA) di Kabupaten Garut dilaksanakan pada tanggal 31 Juli 2018, bertempat di Hotel Fave, Cimanuk Garut.

Tatang Rahman selaku Program Manager dari Yayasan Semak menyampaikan bahwa Semak sebagai pelaksana Program Peduli bergerak di tiga desa dengan dua strategi utama, yakni bergerak di lapangan (bersama anak dan masyarakat) dan memasuki ranah kebijakan (pemerintah desa, kecamatan, kabupaten). Mereka menjangkau anak-anak secara umum dan  memfasilitasi pembentukan Gerakan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) dengan menggunakan nama Komite Pendidikan Masyarakat Desa (KPMD). Melalui proses tersebut, terjadi proses yang membuka sekat dan keterkucilan AYLA secara inklusif.

Semiloka yang menghadirkan para pembicara yaitu Odi Shalahuddin dari Yayasan SAMIN; H Yayan Gunawan, S.Sos., M.Si., Kabid Sosbud Bappeda  Kab. Garut; Drs. Rahmat Wibowo, M.Si., Kabid Perlindungan Anak DPPKBPPPA Kab. Garut; dan Dr. Ikeu Kania, Dra, M.Si. dihadiri oleh perwakilan OPD terkait, organisasi masyarakat di tingkat komunitas, organisasi masyarakat sipil dan jurnalis.

Odi Shalahudin memaparkan bahwa Program Peduli adalah kelanjutan dari PNPM yang sudah sekian lama berjalan di Indonesia. PNPM merupakan program pengentasan kemiskinan terbesar di dunia. Akan tetapi ternyata ada beberapa kelompok/komunitas yang tidak terjamah oleh PNPM. Mereka adalah kelompok yang tereksklusi dari akses layanan publik dan sering mendapat stigma negatif. Salah satunya adalah kelompok anak-anak yang dilacurkan. Untuk itulah program Peduli memfokuskan pada upaya inklusi bagi kelompok tersebut.

Program Peduli akan sulit jika dijakankan oleh pemerintah. Hal ini terjadi karena pemerintah memiliki prosedur dan persyaratan yang seringkali menyulitkan. Oleh karena itu maka program ini diserahkan pada LSM yang sudah terbisa bekerja di masyarakat, meski tetap menjalin kemitraan degan pemerintah setempat.

Yayan Gunawan menekanan aspek koordinasi di antara SKPD untuk perlindungan anak. Termasuk dalam hal penganggaran. Hal senada juga disampaikan Rahmad Wibawa. Perlunya berkomitmen untuk membangun sistem bersama, termasuk dengan dunia usaha (CSR) dan masyarakat. Peran media juga dipandang sangat penting.

Saat ini Kab. Garut sudah mendapat predikat Kabupaten Layak Anak tingkat pratama. Akan tetapi beberapa masalah masih perlu dituntaskan antara lain: Akta kelahiran, perkawinan anak, masalalah kesehatan anak, dan kasus-kasus khusus seperti ABH dan AYLA. Kab. Garut belum memiliki sarana pendukung seperti Social centre, juga belum ada LKSA. Kesemua masalah itu perlu kerja sama dan koordiasi yang baik.

Dr. Ikeu Kania menegaskan dalam koordinasi perlu ada kejelasan tugas. Beliau juga menekankan pentingnya data sebagai basis dalam melakukan intervensi.

Hasil diskusi, peserta sepakat bahwa perlu integrasi dalam perencanaan (peran Bappeda sangat sentral dalam hal ini). Singkronisasi program dan sinergi antar pelaku sangat diperlukan dalam pendataan dan intervensi.

Semiloka yang diselenggarakan oleh Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) bekerjasama dengan Yayasan Solidaritas Masyarakat Anak merupakan rangkaian kegiatan yang dilangsungkan di lima (5) kota. Sebelumnya, kegiatan telah dilangsungkan di Makassar, Surabaya, dan Bandung. Selanjutnya, setelah Garut akan diselenggarakan di Bandar Lampung.

Sebagai puncaknya, akan diselenggarakan seminar nasional dengan tema yang sama di Jakarta dengan menghadirkan perwakilan dari lima wilayah, Kementerian dan Lembaga, serta berbagai organisasi Non Pemerintah yang memiliki perhatian terhadap isu-isu anak.

Keseluruhan kegiatan merupakan bagian dari Program Peduli di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) atas dukungan dari Pemerintahan Australia. Program Peduli dikelola oleh The Asia Foundation (TAF) yang menjalin kerjasama dengan sembilan Organisasi Non Pemerintah sebagai mitra payung. Program Peduli terdiri dari enam pilar yakni: Agama dan Kepercayaan, Masyarakat Adat, Korban HAM, Waria, Disabilitas, dan Anak Rentan. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *