Pencegahan dan Penanganan Anak yang Dilacurkan Berbasis Sekolah

posted in: Kampanye | 0
Esthi Susanti Hudiono, Direktur Yayasan Hotline Surya (YHS) Surabaya.

 

“Yayasan Hotline sejak 30 tahun yang lalu telah berdialektika dengan masalah di lapangan dan memiliki intuisi dengan masalah di masyarakat. Dahulu kami memiliki pendekatan parsial lalu kami mengintegrasikan komponen pendekatan pencegahan prostitusi (anak yang dilacurkan) isu gender, dan pengasuhan. Semua issue dimasukkan secara mendalam. Dalam hal ini apabila kita menemukan kasus anak bermasalah berbasis sekolah pada level sekolah dasar atau menengah tingkat sukses jauh lebih baik dari pada tingkat SMA,” demikian dikatakan oleh Esthi Susanti Hudiono, Direktur Yayasan Hotline Surya (YHS) Surabaya.

Menurutnya, alasan deteksi dini dan penanganan anak korban berbasis sekolah jauh lebih efektif didasarkan bahwa struktur yang sudah jelas, punya kewenangan untuk mendisiplinkan siswa, aturan yang mengikat, jangka waktu relatife lama, dan perubahan anak bisa terukur dari perilaku kesehatan.

“Metode yang digunakan adalah pelatihan generasi SMART menghadapi masa remaja. 20-25 persen mengandung mengandung unsur edukasi /informasi yang mencakup kekerasan, kesehatan reproduksi, narkoba, gangguan emosi, aborsi dan informasi terkait remaja, sedangkan 75-80 persen berisi komponen penilaian risiko, konseling individu, konseling kelompok dan kunjungan ke sekolah” tambahnya memberikan penjelasan tentang upaya pencegahan dan penanganan anak khususnya anak yang dilacurkan dengan berbasis sekolah.

YHS Surabaya telah melatih 174 anak dan menemukan 22 kasus adiks seks yang akut melalui proses konseling. Tujuh anak diantaranya telah dirujuk. Selain itu, terdapat 12 guru yang telah mendampingi 50 kasus.

Semiloka “Inklusi Sosial bagi Anak yang Dilacurkan” di Surabaya

Pemaparan Esthi Susanti Hudiono disampaikan dalam Semiloka “Inklusi Sosial bagi Anak yang Dilacurkan” yang dilangsungkan di Hotel Aria Centra Surabaya, (25/7 18). Turut menjadi pembicara lainnya adalah dr. Nurul Lailah selaku kepala Puskesmas Dupak yang mewakili Dinas Kesehatan Kota Surabaya, dan dr. Hafid Algristan mewakili Akademisi.

Dr. Nurul Lailah memaparkan kegiatan di Puskesmas kecamatan Dupak yang sudah berpredikat Puskesmas ramah anak. Puskesmas ini adalah salah satu mitra YHS dalam kerja-kerja terkait isu anak. Disampaikan bahwa pada dasarnya pelayanan Puskesmas mengedepankan aspek preventif dan promotif ketimbang kuratif. Oleh karena itu peran serta masyarakat sangat mutlak untuk mewujudkan misi tersebut.

Sementara itu dr. Hafid Algristin menekankan pentingnya berkolaborasi di lapangan. Pemaparan tersebut didasarkan pada pengalaman beliau dari kalangan akademisi (pengabdian pada masyarakat) yang sejak lama aktif berkerja sama dengan YHS.

Semiloka yang diselenggarakan oleh Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) bekerjasama dengan Yayasan Hotline Surya ini merupakan rangkaian kegiatan yang dilangsungkan di lima (5) kota. Sebelumnya telah dilangsungkan di Makassar (17/7), dan selanjutnya akan dilangsungkan di Bandung, Garut dan bandar Lampung.

Sebagai puncaknya, akan diselenggarakan seminar nasional dengan tema yang sama di Jakarta dengan menghadirkan perwakilan dari lima wilayah, Kementerian dan Lembaga, serta berbagai organisasi Non Pemerintah yang memiliki perhatian terhadap isu-isu anak.

Keseluruhan kegiatan merupakan bagian dari Program Peduli di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) atas dukungan dari Pemerintahan Australia. Program Peduli dikelola oleh The Asia Foundation (TAF) yang menjalin kerjasama dengan sembilan Organisasi Non Pemerintah sebagai mitra payung. Program Peduli terdiri dari enam pilar yakni: Agama dan Kepercayaan, Masyarakat Adat, Korban HAM, Waria, Disabilitas, dan Anak Rentan. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *