Ratusan Anak di Bandung Terjebak di Prostitusi

posted in: Uncategorized | 0
Bambang Y Sudayana, Direktur Konfederasi Anti Pemiskinan Indonesia

 

Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) bekerjasama dengan Konfederasi Anti Pemiskinan telah melangsungkan Semiloka “Inklusi Sosial bagi Anak Yang Dilacurkan”, 26/7 18, di Hotel Mitra, Bandung. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan yang dilangsungkan di lima kota. Sebelumnya, kegiatan serupa telah dilakukan di Makassar (17/7) dan Surabaya (25/7). Setelah Bandung, kegiatan serupa akan dilangsungkan di Garut dan Bandar Lampung.

“KAP Indonesia telah melakukan pemetaan cepat (rapid assessment) di Kota Bandung tentang anak yang dilacurkan. Hasilnya ditemukan ada 96 titik (spot) yang menjadi tempat kegiatan anak yang dilacurkan. Tercatat ada 531 anak perempuan, 135 anak laki-laki, dan 37 anak waria, dengan usia terendah 12 tahun” demikian disampaikan oleh  Bambang Y Sudayana, Direktur KAP Indonesia dalam Semiloka tersebut. Bambang menjamin keakuratan data yang disampaikannya mengingat sumber informasi berasal dari anak-anak yang dilacurkan itu sendiri.

Pemetaan cepat ini terkait dengan Program Peduli yang telah dilaksanakan sejak awal 2015. KAP Indonesia bekerja di tiga kecamatan dan telah mendampingi sebanyak 217 anak terdiri dari 120 anak laki-laki dan 97 anak perempuan.

Pendekatan yang digunakan adalah membuka akses layanan kesehatan, sehingga mereka menjalin kerjasama dengan tiga Puskesmas dan juga membangun organisasi perlindungan anak di tiga wilayah, yaitu Kecamatan Cidadap, Sukajadi, dan Cibeunying Kaler.

“Dinas Kesehatan Kota Bandung di akhir tahun 2017 telah menetapkan tujuh Puskesmas sebagai Puskesmas Ramah Anak dan dua diantaranya adalah yang selama ini telah menjalin kerjasama dengan KAP Indonesia,” jelas Bambang.

Seminar yang terbagi ke dalam dua sesi ini, didahului oleh penampilan musik yang menarik dari anak-anak yang menjadi mitra KAP Indonesia.

Turut menjadi narasumber semiloka adalah Antik Bintari selaku Fasilitator Nasional Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat; Muhammad Anwar, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan masyarakat Kota Bandung; Neni Sumiati  dari Forum Komunikasi Peduli Anak Kec. Sukajadi; dr. Yorisa Sativa, M.kes selaku Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kota Bandung; dan Rana Akbari Fitriawan, S.sos., M.Si, dosen Komunikasi Universitas Telkom Bandung.

Antik Bintari memaparkan tentang Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM). Program ini adalah program unggulan Deputi perlindungan Anak Kementrian Perempuan dan Perlindungan Anak. PATBM merupakan strategi pengarusutamaan hak anak untuk membangun demand masyarakat agar lebih responsif terhadap isu anak.

  1. Anwar memaparkan aspek preventif dan kuratif dalam perlindungan anak yang dilakuakan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Bandung. Adapun implementasinya meliputi: mewujudkan kota layak anak, sekolah ramah anak, penguatan ekonomi keluarga, peran media, dan kemitraan pemerintah dengan pegiat isu anak.

Neni Sumiati mempersentasikan pengalaman Forum Komunikasi Peduli Anak di Kecamatan Sukajadi. Selain bermitra dengan pemerintah lokal, forum ini juga berupaya mengembangkan “partisipasi anak” sebagai strategi dalam mengeliminasi AYLA.

Presentasi terakhir oleh Rana Akbari Fitriawan memaparkan tentang peran media dalam perlndungan anak. Diakui bahwa selama ini media banyak melanggengan stigmatisasi terhadap kasus-kasus anak. Untuk itu diperlukan persektif baru yang lebih berpihak pada anak sebagai korban.

Dalam sesi diskusi, hampir semua peserta sepakat bahwa perlu perubahan terhadap cara pandang terhadap AYLA. Anak bukan pelakiu melainkan korban. Peserta juga menekankan perlunya penguatan fungsi keluarga sebagai dasar badi hak anak atas pengasuhan. Peran serta masyarakat perlu terus didorong. Apalagi selama ini sebenarnya sudah cukup banyak inisiatif warga melalui LSM yang seharusnya diparesiasi oleh pemerintah.

Untuk anak yang sudah terjebak dalam prostitusi diperlukan penanganan korban dengan program yang kongkrit dan pro kepentingan terbaik anak. Keterbatasan data juga sangat direkomendasikan  untuk segera disikapi bersama.

Semiloka yang diselenggarakan oleh Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) bekerjasama dengan KAP Indonesia merupakan rangkaian kegiatan yang dilangsungkan di lima (5) kota. Sebelum Bandung, Semiloka telah diselenggarakan di Makassar dan Surabaya. Selanjutnya akan dilaksanakan di Garut dan Bandar lampung.

Sebagai puncaknya, akan diselenggarakan seminar nasional dengan tema yang sama di Jakarta dengan menghadirkan perwakilan dari lima wilayah, Kementerian dan Lembaga, serta berbagai organisasi Non Pemerintah yang memiliki perhatian terhadap isu-isu anak.

Keseluruhan kegiatan merupakan bagian dari Program Peduli di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) atas dukungan dari Pemerintahan Australia. Program Peduli dikelola oleh The Asia Foundation (TAF) yang menjalin kerjasama dengan sembilan Organisasi Non Pemerintah sebagai mitra payung. Program Peduli terdiri dari enam pilar yakni: Agama dan Kepercayaan, Masyarakat Adat, Korban HAM, Waria, Disabilitas, dan Anak Rentan. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *