Seminar Nasional “Inklusi Sosial bagi Anak yang Dilacurkan”

posted in: Kampanye | 0
Dari Kiri: Taufan Damanik (Komnas HAM), Setiawan Cahyo Nugroho (Moderator), Dra. Rosarita Niken Widiastuti, M.Si. (Kemenko Info), Woro Srihastuti Sulityaningrum ST, MIDS (Bappenas), dan Dr. Ari Sudjito (Sosiolog Fisipol UGM)

 

Setelah serangkaian seminar dan lokakarya dilakukan di lima kota, yakni Makassar, Surabaya, Bandung, Garut dan Bandar Lampung, sebagai puncaknya dilangsungkan Seminar Nasional. Acara yang diselenggaraan oleh Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) sebagai bagian dari pelaksanaan Program Peduli, berlangsung pada tanggal 29 Agustus 2018, di Redtop Hotel, Jakarta.

Sehari sebelumnya, di tempat yang sama dilakukan peluncuran buku dan film pendek. Ada dua buku yang diterbitkan, yakni himpunan tulisan kesaksian dari anak-anak yang dilacurkan dan buku saku tentang Anak yang Dilacurkan. Sedangkan film berupa motion-grafis, tentang anak yang dilacurkan, tentang peranan gerakan perlindungan anak di tingkat komunitas, dan testimoni anak.
Acara yang diikuti sekitar 200 orang yang berasal dari perwakilan pemerintah dari tujuh Kota, aktivis NGO, penggerak masyarakat di tingkat komunitas, dan juga perwakilan anak, didahului dengan rangkaian acara pembukaan seperti penampilan paduan suara dari Forum Anak KAP Indonesia Bandung, penampilan lagu-lagu anti eksploitasi anak yang dibawakan oleh Wak Yok dan Nawang, pembacaan karya anak oleh Dewi Nova, dan penyerahan secara simbolis dana pembinaan kepada para pemenang lomba esai dan lomba film pendek. Acara dipandu oleh Indra Herlambang, yang dikenal sebagai presenter generasi awal dari program Insert.

Odi Shalahuddin, Direktur Yayasan SAMIN

“Memang, masalah anak yang dilacurkan sebagai tema acara ini, satu hal yang sangat sensitif dari berbagai persoalan anak. Kalau bicara pornografi anak, maka yang muncul dalam diri kita adalah simpati, empati terhadap anak yang menjadi korban. Demikian juga kalau kita bicara tentang anak korban perdagangan. Tetapi, ketika bicara anak yang dilacurkan, kita seringkali luput menempatkan mereka sebagai korban. Tapi, yang langsung muncul adalah stigma. Kalau kita menyaksikan pembacaan karya anak semalam, film-film yang menampilkan kesaksian anak-anak, derita yang mereka alami, gemerlap yang tidak mereka nikmati. Mereka terus berusaha keluar dari situasi itu. Itu menunjukkan anak mampu berjuang. Tinggal, bagaimana menciptakan lingkungan dimana perjuangan kita dan anak-anak bisa senada sehingga kehidupan anak-anak Indonesia bisa lebih baik,” demikian disampaikan oleh Odi Shalahuddin, selaku Direktur Yayasan SAMIN dalam sambutannya.

Nathalia Warat, Deputi Team Leader Program Peduli yang mewakili The Asia Foundation, memberikan penjelasan singkat tentang Program Peduli. Terkait dengan program yang dilaksanakan oleh Yayasan SAMIN bersama lima mitranya, dikatakan bahwa Ratusan anak di wilayah dampingan kini terlindungi dan terlayani. Mereka menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik, yang penuh rasa optimis dengan masa depan, dan punya kepedulian atas kondisi teman-teman mereka. Sejumlah kebijakan mulai dari tingkat desa sampai Kabupaten/kota juga sudah dilahirkan dan diupayakan oleh para mitra yang bekerja di wilayah-wilayah tadi, menjadi penguat upaya-upaya perlindungan anak. Forum-forum, baik forum anak dan forum masyarakat terbentuk dan menjadi pusat pengembangan pribadi anak, dan keterlibatan anak dalam perlindungan anak menjadi sangat krusial di setiap komunitas.

Nathalia Warat, Deputi Team Leader Program Peduli, The Asia Foundation

Nathalia juga membacakan penggalan tulisan dari buku kesaksian anak yang dilacurkan. Selanjutnya dikatakan: “Di sini, Saya dari The Asia Foundation ingin menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Samin dan juga kepada mitranya –CCC, SMAK, YKPM, KAP dan YHS- atas kerja keras dan komitmen yang luar biasa dalam membangun sistem model perlindungan anak, khususnya anak-anak rentan pada eksploitasi seksual komersial,”.

“Saya ingin tiba lebih awal, karena ingin lihat, ruangan ini akan diisi oleh siapa. boleh Saya katakan, bahwa ini adalah bagian atau cikal bakal dari planet 50-50, keseimbangan gender. Lama-lama, itu tidak hanya yang muda atau tua saja, tapi seimbang. Itu hal yang menggembirakan. Karena, ini isu anak-anak, isu masa depan, dan yang paling dekat dengan anak-anak adalah orang tua, baik Bapak maupun ibu. Ketika mendapat undangan dari Pak Odi, yang harus ditekankan adalah bagaimana perlindungan dan pemberdayaa perempuan dan anak. jadi, bukan masalah soal program Peduli. Ini adalah urusan kedeputian 7, tetangga Saya. Saya lebih melihat ini sebagai staf ahli SDGs,” Ghafur Dharmaputra, Plt Deputi Perlindungan Anak Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menyampaikan kesannya.

Dilanjutkan bahwa perhatian di Kemenko PMK adalah bagaimana kemiskinan dapat diatasi, dientaskan atau di nol-kan. Dari SDGs ini terkait dengan tujuan I. “Kemiskinan adalah akar dari semuanya. Cara memotongnya adalah melalui pendidikan,” tegasnya.
Menurut Dharmaputra, kalau bicara industri, di situ ada isu yang menurutnya adalah greedy, mereka mencari keuntungan tanpa memperhatikan kepentingan orang lain. Kalau sudah bicara industri seks, mereka akan berusaha survive. Isunya adalah survival. Maka, perlu continue supply untuk memenuhi demand di satu sisi. Sehingga, isu yang core pembicaraan seminar AYLA –bagus sebutannya, anak yang dilacurkan- harus benar-benar kita cegah. “Kalau bicara pencegahan, ada di ranah kami, Kementerian/Lembaga berdasarkan peraturan. Ini inti bagaimana Saya dapat mewakili pemerintah melihat isu ini. kalau dari perencanaan, Bappenas yang akan bicara di sesi selanjutnya. Tapi, kendala di sini, seperti tadi disampaikan Pak Odi, semakin sedikit organisasi masyarakat sipil yang melihat masalah AYLA, apalagi pemerintah. Jadi, menurut Saya, dialog seperti ini yang harus ditingkatkan jumlahnya. Dengan demikian, semakin banyak orang memahami dan semakin banyak perhatian.”

Ghafur Dharmaputra, Plt Deputi Perlindungan Anak Kemenko PMK

Selanjutnya Ghafur Dharmaputra menampilkan data-data tentang situasi anak dan hambatan atau masalah di dalam mengatasinya, serta mengkaitkan dengan desain dari SDGs. “Gongnya adalah kemitraan. Kita tidak bisa lagi mengkotak-kotakkan: pemerintah, parlemen, masyarakat sipil, media, akademisi, bisnis dan filantropi. Program kita harus terarah. Sekarang, Agustus 2018, berarti kita hanya punya waktu kurang dari 12 tahun untuk mencapai SDGs. Saya tidak bicara masalah SDGs-nya. Kalau Bapak dan Ibu menganggap itu masih di awang-awang, kita bicara –yang disampaikan Presiden- bagaimana mencapai generasi emas 2045. Masih ada timeframe 15 tahun dari SDGs,” ujarnya.

“Saya mengucapkan selamat berseminar nasional. Bagaimana Bapak dan Ibu, terutama adik-adik bisa membantu teman-temannya, bukan menjerumuskan temannya seperti yang terjadi di Bangka. Balasannya, bukan hanya di dunia –kalau kita umat beragama- tapi di akhirat. Saya akhiri, bismillah nirohmanirohim. Seminar ini Saya buka. Sekali lagi, pemikiran baru dan terobosan-terobosan, sangat kita dinantikan,” demikian Ghafur Dharmaputra di akhir sambutan dan membuka secara resmi Seminar Nasional ini.

Seminar Nasional di bagi ke dalam dua sesi. Sesi pertama menghadirkan Dra. Rosarita Niken Widiastuti, M.Si. (Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenko Info RI), Woro Srihastuti Sulityaningrum ST, MIDS (Bappenas, Direktorat Keluarga, Perempuan, Anak, Pemuda dan Olah Raga), Taufan Damanik (Ketua Komnas HAM – yang menggantikan secara mendadak karena wakil dari Kementerian PPPA tidak hadir) dan Dr. Arie Sudjito M.Si. (Sosiolog dari Fisipol UGM). Acara dipandu oleh Setiawan Cahyo Nugroho,

Sedangkan pada sesi kedua menghadirkan Dr Ahmad Sofyan (Koordinator Nasional ECPAT Indonesia), Bambang Y Sudayana (mewakili tim Program Peduli SAMIN), Nahar SH., M.Si. (Direktur Rehabilitasi Anak Kementerian Sosial RI), dan Rumi Utari (Bareskrim Mabes Polri), dengan moderator Sari Monik Agustin.

Acara ditutup dengan pembacaan rumusan sementara hasil dari keseluruhan rangkaian semiloka di lima kota dan seminar nasional yang disampaikan oleh Subhansyah. (Odi Shalahuddin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *