Dra. Rosarita Niken Widiastuti, M.Si. (Kemenkoinfo): Tsunami Informasi, Anak Rentan Terpapar Eksploitasi Seksual

posted in: Kampanye | 0
Dra. Rosarita Niken Widiastuti, M.Si. (Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenko Info RI)

“Banyaknya anak yang diekspoitasi melalui online tidak lepas dari perkembangan teknologi informasi. Sebelum bicara mengenai ekploitasi seksual secara daring, kita lihat dulu belantara digital di Indonesia.  Sekarang, pengguna internet 54,6%, atau 134 juta masyarakat pengguna internet. 68% diantaranya adalah anak-anak, mulai tingkat SD,” demikian disampaikan oleh Dra. Rosarita Niken Widiastuti, M.Si, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkoinfo dalam acara Seminar Nasional “Inklusi Sosial bagi Anak yang Dilacurkan”, Jakarta, 29/8 2018 yang lalu.

Dipaparkannya bahwa HP yang beredar di Indonesia sebanyak 415,7 juta, sedangkan penduduk Indonesia sekarang 265 juta jiwa.  Seseorang dapat memiliki 2 atau 3 HP. Sedangkan nomor HP mencapai lebih dari 400 juta. Setelah Kominfo meregistrasi kartu prabayar, sekarang tinggal sekitar 300-an juta.

Mengenai penggunaannya, HP atau akses internet lebih banyak untuk chatting sebesar 89%, dan lebih banyak untuk foto dan download video, 68%.  Dari sinilah awal mula anak-anak kita terpapar content negatif yang banyak ada di platform-platform digital.

Di dunia maya, dalam satu menit sibuk luar biasa.  Facebook  dalam 1 menit terdistribusi 3,3 juta informasi. Whatsapp 29 juta, youtube juga jutaan isi yang diunggah.  Pertanyaannya, seberapa banyak content positif mendominasi di digital ini?  Setap detik berapa ratus ribu informasi, berapa puluh ribu video diunggah?

“Ini perlu menjadi perhatian kita semua. Sangat bagus ada lomba membuat video, Saya sungguh bangga kepada anak-anak yang sudah bisa membuat karya dengan membawa pesan positif.  Video-video ini bagus diupload untuk menjadi edukasi anak muda agar tidak terjerumus ke dunia yang seharusnya tidak mereka lakukan” ujar Niken.

Dilanjutkannya, bahwa berdasarkan penelitian, generasi muda hanya tahan tujuh  menit tidak memegang HP. “Bapak- Ibu berapa menit? Lima menit? Dua menit? Bagaimana kita peduli lingkungan kalau hanya sibuk dengan HP. Kita  jauh dengan orang dekat, dekat dengan orang yang jauh.

Content informasi membanjir, bahkan seperti tsunami.  Tapi, minat baca Indonesia 60 dari 61 negara. kita cerewet di media sosial tapi kalau ditanya mengenai isi –karena minat bacanya rendah- banyak hoax, ujaran kebencian, provokasi, hasutan, caci maki.  Mungkin, ini karena kita kurang membaca. Ini penelitian unesco. Masyarakat Indonesia dalam setahun, hanya membaca 27 halaman. Bayangkan! Para akademisi, mahasiswa, dan orang-orang yang suka membaca, durasinya dibagi jumlah penduduk. Maka, literasi juga penting.

Padahal, internet seharusnya digunakan untuk hal yang positif, seperti  komunikasi, rekreasi, mencari informasi, referensi, transaksi, dan edukasi.  Sebetulnya, dengan digital terbuka lapangan kerja yang dulu tidak ada. Tadi anak kita mau jadi artis, youtuber, facebooker, tiktoker.  Asalkan kreatif, kita bisa menjadi sesuatu. Tapi, dibalik peluang yang sesungguhnya sangat besar terkandung hal-hal negatif yang mengincar anak-anak kita, kalau kita sebagai orang tua dan anak kurang memahami arti positif dari media internet atau digital.

Ancaman di dunia internet cukup banyak: pornografi, bullying, penipuan, hedonisme, radikalisme, prostitiusi semakin marak.  Di dunia digital, para pemilik platform, misalnya pemilik FB membatasi anak-anaknya menggunakan media sosial.  Bill Gates juga demikian.  Sementara, anak bayi kita sudah dipegangi  gadget walaupun untuk menonton baby shark. Tapi, ketika sudah agak besar, rasa ingin tahunya besar, akhirnya kemana-mana mencari informasi yang belum sesuai dengan usianya.  Ini juga dampak –karena kita- orang tua terlalu sibuk, kurang peduli pada anak-anak karena main gadget.  Mari kita dengan kesadaran sendiri mengurangi penggunaan gadget ketika ada anak-anak atau kita perlu mendampingi anak-anak kita. Anak-anak dan remaja pengguna internet tidak sedikit yang menjadi korban kejahatan atau cybercrime, prostitusi anak, ajang transaksi, judi, kekerasan, penipuan, dsb.

Kejahatan seksual online pada anak, Indonesia ternyata pengakses pornografi Nomor 2 di dunia. Ini sangat memprihatinkan.  Terjadi ledakan kasus seksual online.  Dari unit cyber Polda, banyak membongkar kejahatan seksual online pada anak-anak. Di Jakarta juga banyak korban yang jatuh, menjadi pelacur. Modusnya, melalui media sosial.

Eksploitasi seksual pada anak secara online adalah masalah global yang berkembang dengan cepat, membutuhkan respon yang komprehensif. Pelaku dan modus operandinya termotivasi, ketertarikan seksual mereka pada anak-anak atau keuntungan sosial, pelaku bisa bekerja sendiri.  Dalam cerita tadi, seorang anak dibantu oleh mucikari yang mencarikan order melalui media online.  Pelaku menggunakan platoform online yang lebih tersembunyi agar tidak terdeteksi.

Bentuk eksploitasi seksual anak secara online adalah materi eksploitasi seksual pada anak, grooming online, sexting dan pemerasan seksual atau sextorting, siaran langsung atau live streaming kekerasan pada anak.  Materi eksploitasi seksual pada ada menampilkan kekerasan seksual yang dihasilkan secara digital melalui platfom, menggambarkan aktifitas seksual yang melibatkan anak-anak. Grooming online tujuan untuk seksual adalah proses membangun hubungan dengan anak menggunakan internet atau teknologi digital untuk memfasilitasi kontak sosial online dengan anak.  Biasanya, mereka menggunakan foto-foto. Awalnya, menggunakan Facebook. Awalnya baik-baik tapi lama-lama anak-anak dijerumuskan ke dunia pelacuran. Grooming untuk tujuan seksual sesungguhnya sudah dikriminalkan dalam Konvensi Dewan Eropa tentang perlindungan anak dari eksploitasi seksual dan kekerasan seksual, juga dikriminalkan dalam Konvensi Uni Afrika tentang keamanan cyber dan perlindungan data pribadi.

Sexting ini pembuatan gambar seksual sendiri atau penciptaan atau membagi anak-anak sekarang mungkin menggunakan pakaian minim diupload di media sosial. Lalu, ada orang yang membagikan gambar tersebut, yang kemudian mengundang –mungkin- mucikari untuk menarik mereka dalam jaringannya.  Sexting ini membuat anak-anak rentan menjadi korban seksual, pemerasan, perundungan, gambar disalin digunakan dalam koleksi materi yang menampilkan eksplosi atau kekerasan anak.  Sextortion, pemerasan seksual terhadap seorang anak dengan bantuan sebuah gambar untuk mendapat imbalan seks.  Mungkin ketika pacaran, mereka melakukan hal-hal yang yang dilarang sesungguhnya. Lalu, itu difoto atau video.  Hasil foto atau video digunakan untuk memeras, anak yang menjadi korban dipaksa melakukan apapun yang dikehendaki oleh pemeras. Live streming, ketika seorang anak –seperti cerita tadi- yang mendapatkan kekerasan, ditampar, diludahi, dsb. Ketika live streaming dan diedarkan, anak akan dipermalukan seumur hidupnya.  Untuk platform siaran langsung, video chatt atau situs chatting didukung dengan webcam, dimanfaatkan juga oleh orang-orang yang mengeksploitasi untuk meminta seorang anak melakukan sesuatu. Jadi, ini jarak jauh, entah pacar atau pelanggan meminta anak membuka baju atau melakukan hal-hal yang mereka minta.

Upaya pencegahan eksploitasi pada anak harus melibatkan semua pihak.  Pertama, gunakan alamat Internet Protokol –melalui teknologinya- identifikasi pelaku kekerasan seksual melalui internet, penyaringan untuk membatasi ketersediaan content, dan gunakan enkripsi atas data yang dikirim. Kami dari Kominfo tidak pernah lelah memblokir content. Karena tugas kominfo ada di hilir dan di hulu.  Kominfo sudah memblokir content sampai dengan minggu ini sekitar 980 ribu. Tapi, produsen terus akan menghujani. Apalagi Indonesia menjadi konsumen yang besar.  Sehingga, kalau hanya dalam tahapan pemblokiran, tentu terus berlomba dengan para produsen. Tugas Kominfo, pembatasan, mulai 10 Agustus, Menteri sudah menyampaikan ke platfom.  Selama ini, kita dari Kominfo punya peralatan AiS untuk menapis content-content negatif, yang mayoritas adalah pornografi. Tapi yang penting adalah literasi kepada anak, remaja, media, orang tua tentang bahaya eksploitasi anak. Untuk platform seperti Google, Facebook, Twitter, dan sebagainya sekarang juga bekerjasama dengan Kominfo menerapkan safe engine mode untuk menapis content negatif secara otomatis. Semoga dengan penapisan dari platform akan semakin berkurang.

Strategi komunikasi untuk pencegahan eksploitasi anak banyak yang bisa dilakukan, melalui bug the line. Kita bekerjasama dengan media-media mainstream: radio, televisi, maupun cetak, kita unggah content  pencegahan, perlindungan anak melalui media digital. Mungkin, bisa bekerjasama dengan endoreser,  key opinion leader, dengan berbagai pihak.  Ketiga, kegiatan seperti ini. Mungkin, ini bisa dilakukan di perguruan tinggi untuk sosialisasi.

“Pencegahan eksploitasi anak,   ini memang harus bergandengan tangan antara keluarga, orang tua, lingkungan, sekolah, pers, media, organisasi strategis teknologi, internet protocol, software, platform, penegakan hukum dan masyarakat. Pencegahan di tingkat keluarga tentu kita harus mendampingi anak-anak kita, membatasi penggunaan internet – jangan sampai seluruh waktu digunakan untuk berselancar di media daring sehingga lupa tanggungjawabnya sebagai pelajar bahkan mudah terpengaruh dengan informasi atau video yang kadang-kadang muncul.  Akhirnya, mereka ikut nonton video-video itu.  Kami bekerjasama dengan semua pihak untuk pencegahan ekploitasi anak,” saran Niken mengakhiri pembicaraannya.

Catatan:

Tulisan ini disusun berdasarkan pemaparan Dra. Rosarita Niken Widiastuti, M.Si. (Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenko Info RI) dalam Seminar Nasional “Inklusi Sosial bagi Anak yang Dilacurkan”, Jakarta, 29 Agustus 2018, diselenggarakan oleh Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN)..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *