Konvensi Hak-hak Anak (KHA) memberikan perlindungan khusus terhadap anak yang menjadi korban eksploitasi termasuk eksploitasi seksual dan pelibatan anak di dalam praktek-praktek prostitusi atau pelacuran. Anak yang Dilacurkan atau AYLA merupakan salah satu kelompok anak yang membutuhkan perlindungan khusus dan merupakan salah satu bentuk pekerjaan terburuk bagi anak. Kelompok anak ini juga merupakan salah satu bentuk Eksploitasi Seksual Anak (ESA) atau yang sebelumnya disebut dengan Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak (ESKA). Anak yang Dilacurkan atau AYLA merupakan salah satu kelompok anak yang membutuhkan perlindungan khusus. Dan merupakan salah satu bentuk pekerjaan terburuk bagi anak. Kelompok anak ini juga merupakan salah satu bentuk Eksploitasi Seksual Anak (ESA) atau yang sebelumnya disebut dengan Eksploitasi Seksual Komersial terhadap Anak (ESKA).

Sampai saat ini belum tersedia data atau informasi spesifik tentang jumlah anak yang dilacurkan di Indonesia. Bahkan jika melihat perkembangan tekhnologi, pelacuran anak melalui media internet juga kian marak, namun belum ada data khusus mengenai ini. Selama ini perkiraan jumlah anak-anak yang dilibatkan dalam prostitusi masih mengacu pada hasil analisis situasi tahun 1999 yang menyatakan 30% dari pekerja seksual komersial di Indonesia adalah anak-anak. Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN) menjadi Mitra Payung pada Program Peduli Fase II yang bekerja pada Pilar Anak dan Remaja Rentan. Yayasan SAMIN menjadi Executing Organizer Program Peduli Inklusi Sosial untuk Sub-Pilar Remaja Anak yang Dilacurkan atau AYLA di lima wilayah yang bermitra dengan lima CSO (Civil Society Organization) yakni: Yayasan Pengkajian Pemberdayaan Masyarakat (YKPM) di Makassar; Children Crisis Center (CCC) di Lampung; Yayasan Hotline (YHS) di Surabaya; Konfederasi Anti Pemiskinan (KAP) Indonesia di Bandung; dan Yayasan Solidaritas Masyarakat Anak (SEMAK) di Garut.

Buku ini merupakan hasil penelitian terbatas yang dilakukan untuk memperoleh gambaran situasi AYLA dan implementasi program inklusi sosial yang telah dilakukan di lima wilayah selama ini oleh Program Peduli. Tentu dengan berbagai keterbatasan, buku ini belum bisa memotret secara utuh situasi anak-anak tersebut dengan berbagai kompleksitas yang mereka alami. Tetapi setidaknya bisa memberikan informasi baru mengenai berbagai perubahan yang terjadi dan apa yang seharusnya bisa kita sumbangkan untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi persoalan-persoalan yang mereka hadapi sendiri.