Jika kita buka kembali dokumentasi pemberitaan dan ke[1]bijakan-kebijakan yang diambil pemerintah, fokus yang berkaitan langsung dengan anak-anak terbatas pada situasi pendidikan saja. Muncul wacana tentang pembelajaran dari rumah yang juga masih tetap menyisakan persoalan-persoalan sampai hari ini. Persoalan minimnya atau bahkan tidak adanya akses yang mendukung kegiatan pembelajaran tersebut. Belum lagi infrastruktur yang utama seperti jangkauan layanan komunikasi yang bisa dengan mudah diakses oleh anak-anak selama proses pembelajaran dari rumah berlangsung. Selebihnya, praktis wacana selain pendidikan sangat minim.

Sebut misalnya, bagaimana situasi psikologis anak-anak selama di rumah? Apakah ada intervensi program yang dikembangkan oleh pemerintah agar anak-anak tetap bisa mengembangkan daya jelajah imajinasi selain mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru? Banyak pihak yang menyatakan bahwa bisa jadi, anak-anak pada fase ini adalah generasi yang kehilangan banyak hal akibat tidak adanya penyikapan secara komprehensif berkaitan dengan pemenuhan dan perlindungan hak-hak anak dalam situasi pandemi yang ujungnya tidak kita ketahui.

Buku ini mencoba merangkum situasi anak-anak sejak pandemi berlangsung di tiga desa di Yogyakarta; Desa Wukirsari Cangkringan Sleman, Desa Wedomartani Ngemplak Sleman dan Desa Wukirsari Imogiri Bantul. Melalui serangkaian kegiatan yang dilakukan, kami mencoba memberi ruang agar anak-anak tetap bisa menyuarakan situasi mereka. Situasi dengan keluarga sehari-hari, situasi dengan lingkungan sekitar dan situasi mereka tentang kerinduan untuk segera masuk sekolah dan bertemu dengan rekan-rekan mereka seperti biasanya. Kegiatan-kegiatan tersebut kami harapkan bisa menjadi media baru bagi anak-anak di tengah kondisi yang cukup membebani; mengerjakan tugas sekolah, menghadapi situasi orangtua selama 24 jam sehari dan siasat anak-anak agar tetap bisa tersenyum dan tertawa sebagaimana sebelum pandemi terjadi.